30 Dec 2015

Perkembangan Pers di Malang Raya



Ist
Pertumbuhan media cetak dan siber di Malang sejak dua tahun terakhir ini sangat signifikan. Sebelumnya, hanya ada dua media cetak dengan konten lokal yang sudah lama berdiri di Malang yakni Harian Malang Post dan Radar Malang (Jawa Pos Grup). Koran Radar Malang sejak 2014 lalu mendirikan kantor perwakilan di masing – masing wilayah administrasi pemerintahan yakni Radar Kanjuruhan di Kabupaten Malang dan Radar Batu di Kota Batu. 

Kendati demikian, secara keredaksian maupun manajerial bisnis tetap masih menjadi satu badan hukum dengan Radar Malang dengan kantor pusat di Jalan Arjuno nomor 23 Kota Malang. Pendirian kantor perwakilan ini bertujuan mendukung pengembangan bisnis perusahaan.

Pada 2014 lalu berdiri sebuah media cetak baru yaitu Harian Malang Ekspres (Malang Post Grup). Saham mayoritas koran ini dimiliki oleh manajemen Malang Post. Kantor kedua media juga berada dalam satu kompleks gedung yang sama. Meski secara kepemilikan saham masih berkaitan, ada perbedaan manajemen antara Malang Post dan Malang Ekspres terutama di sektor bisnis perusahaan. Menilik dari kepemilikan modal, maka media cetak yang ada di Malang ini masih satu grup yang sama.

Selain itu, harian Memo Arema yang sebelumnya dibawah naungan PT Memorandum Surabaya (Jawa Pos Grup) dipenghujung tahun 2015 ini membelah diri menjadi dua. Menjadi Harian Memorandum dengan perusahaan yang lama dan Memo X dengan badan hukum PT Memorandum Sejahtera. Kedua media ini berbeda manajemen perusahaan.

Pertumbuhan media paling signifikan di Malang terutama untuk jenis siber dengan konten lokal. Ini juga lebih dinamis lantaran seluruh media itu didirikan oleh pemodal yang berbeda. Berbanding terbalik dengan media cetak yang kepemilikan modalnya hampir seragam. Perkembangan media siber di Malang dimulai dengan berdirinya Malangtimes.com (Times Indonesia network) pada 2014 silam.

Kemudian secara berurutan pada 2015 ini muncul media siber lainnya yakni Mediamalang.com, Malangvoice.com dan Malangtoday.net. Media siber yang relatif baru ini seluruhnya memuat konten lokal. Kantor perusahaan seluruhnya berpusat di Kota Malang dengan coverage area wartawannya meliputi seluruh wilayah Malang Raya.

Seluruh perusahaan pers tersebut sadar sepenuhnya wajib berbadan hukum sebagaimana ketentuan Undang – Undang Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pers. Pembentukan badan hukum seperti perseroan terbatas (PT) disadari memudahkan keberlangsungan perusahaan dari aspek pengembangan bisnis. Selain itu juga memberi jaminan hukum tak akan ada kriminalisasi terkait sengketa pemberitaan.

Secara umum untuk divisi redaksi di masing – masing perusahaan pers dihuni oleh orang yang sebelumnya telah berpengalaman di media. Mereka memilih mendirikan perusahaan pers baru dengan menggandeng investor lokal sebagai pemodalnya. Secara konten, lokalitas menjadi isu utama yang disajikan mulai dari politik pemerintahan daerah, pendidikan, olahraga dengan klub sepak bola Arema dan isu lokal lainnya menjadi isu utama. Informasi yang disajikan secara keseluruhan hampir seragam, pengemasan isu dan angel berita yang menjadi pembeda.

Sebenarnya masih ada media siber lainnya yang didirikan di Kota Malang yang sampai saat ini masih mengurus proses badan hukum perusahaan.

Problem
Pertumbuhan perusahaan pers terutama jenis media siber sangat luar biasa. Ini berdampak positif pada informasi yang didapat masyarakat melalui media online karena sangat beragam. Sehingga akses informasi yang didapat tak lagi didominasi oleh media tertentu.

Kondisi ini berbalik jika mengacu pada pertumbuhan media cetak di Malang yang mayoritas masih satu grup. Meski secara segmen pembaca berbeda, kepemilikan modal di masing – masing perusahaan itu tak berbeda.

Sayangnya, industri media yang tumbuh pesat ini masih kurang didukung dengan kesejahteraan wartawan. Fakta bahwa masih banyak wartawan yang belum mendapat upah sesuai Upah Minimum Kota (UMK) 2015 Kota Malang menjadi salah satu tolok ukurnya. Selain itu, keterampilan wartawan juga kurang mendapat perhatian secara serius. Banyak wartawan muda yang masih duduk di bangku kuliah, minimnya jumlah wartawan yang mengukuti uji kompetensi bisa menjadi salah satu indikatornya.

Analisa pertumbuhan perusahaan pers di Malang Raya ini dapat menggambarkan dinamika industri media di daerah. Ini hanyalah kulit luar yang muncul ke permukaan, belum dapat menggambarkan kondisi secara utuh dan mendalam terhadap perusahaan pers dan profesionalisme jurnalis. Terutama hal yang berkaitan dengan profesionalisme, kesejahteraan dan independensi jurnalis.