Jumat, April 12, 2013

JURNALIS PERLU PERDALAM PENGETAHUAN TENTANG HIV DAN AIDS

Foto: Hari Istiawan

MALANG — Sebanyak 20 jurnalis mengikuti pelatihan meliput isu human immunodeficiency virus (HIV) danacquired immune deficiency syndrome (AIDS) di kantor Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Rabu, 10 April 2013.

Jumat, April 05, 2013


Buntut Penganiayaan Terhadap Ira Rafika Anggraini

Jurnalis di Malang Buat Petisi Kekerasan Terhadap Wartawan

Editor:  | Kamis, 17 Januari 2013 13:51 WIB, 77 hari yang lalu

Jurnalis di Malang Buat Petisi Kekerasan Terhadap Wartawan - Buntut Penganiayaan Terhadap Ira Rafika Anggraini - Tolak kekerasan terhadap wartawan
Tolak kekerasan terhadap wartawan(Foto: Ilustrasi)


Aliansi Jurnalis Tuntut Usut Sampai Tuntas

Senin, 14 Januari 2013 21:38
MALANG – Aliansi Jurnalis Malang Raya, menuntut Polres Malang Kota, untuk bersungguh-sungguh menuntaskan laporan penganiayaan, yang menimpa jurnalis Malang Post, Rabu (9/1) lalu. Tuntutan tersebut berulangkali diteriakkan oleh berbagai awak media serta sejumlah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) saat melakukan aksi di depan kantor Redaksi Malang Post, Jalan Sriwijaya Malang Senin (14/1).

Aksi simpatik tersebut berlangsung sekitar pukul 10.00 kemarin. Aliansi Jurnalis Malang Raya yang terdiri dari anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Malang, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Malang, FWKM (Forum Wartawan Kota Malang), JK (Jurnalis Kanjuruhan), FKWB (Forum Wartawan Kota Batu), Jurma (Jurnalis Malang) bersama awak redaksi Malang Post melakukan aksi damai dengan melakukan orasi, puisi serta membacakan pernyataan sikap bersama.

Mereka sepakat mengutuk dan menolak kekerasan terhadap jurnalis. Sejumlah LSM seperti MCW (Malang Corruption Watch) dan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), juga ikut mendukung aksi dan menyatakan sikap menuntut pengusutan tuntas kasus kekerasan yang menimpa Ira Ravika Anggraini, jurnalis perempuan Malang Post.

‘’Kami menuntut kepada Polres Malang Kota, untuk bersungguh-sungguh menindaklanjuti laporan jurnalis Malang Post Ira Ravika,’’ kata Pemimpin Redaksi Malang Post, Sunavip Ra Indrata saat membacakan pernyataan sikap Aliansi Jurnalis Malang Raya dihadapan pengunjuk rasa Senin kemarin. Laporan tentang penganiayan tersebut dibuat pada Rabu (9/1) petang di Mapolres Malang Kota.

Aksi yang diikuti sebagian besar awak media nasional maupun lokal di Kota Malang tersebut, dipicu oleh tindak kekerasan yang dialami oleh Ira Ravika Anggraini, jurnalis perempuan Malang Post. Jurnalis dari grup media Jawa Pos tersebut mengalami patah tulang di persendian tangan kanan, setelah jatuh tersungkur saat mengendarai motor Suzuki Shogun akibat ditendang pengendara motor Kawasaki Ninja tanpa pelat nomor di Jalan BS Riyadi Rabu (9/1) lalu.

Kejadian itu sendiri, sudah berlangsung hampir sepekan. Hingga kemarin, petugas Reskrim Polres Malang Kota, masih belum berhasil mengungkap siapa pelaku kekerasan. Polisi mengatakan kalau pihaknya masih melakukan penyelidikan. Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP James Hasudungan Hutajulu, dikonfirmasi terkait perkembangan kasusnya, juga tak banyak berkomentar. Melalui pesan pendek lewat SMS, kepada Malang Post dia mengatakan kalau kasusnya dalam tahap penyelidikan.

‘’Dalam proses penyelidikan, Mas,’’ ujar James Hasudungan Hutajulu dalam SMS-nya sore kemarin. Ketika dikonfirmasi lebih jauh terkait apakah ada titik terang pelakunya, serta apa sudah bukti petunjuk, James belum menjawab. Bahkan ketika di telepon, juga tidak diangkat. Sebelumnya, melalui Kabag Humas Polres Malang Kota, polisi berjanji secepat mungkin mengungkap pelaku kekerasan tersebut. Sekalipun saat itu, polisi masih mendalami motif dibalik tindak kekerasan itu.  Apakah kejadian yang menimpa Ira Ravika itu, tindak kriminalitas murni yang mengarah kasus penganiayaan, ataukah percobaan pencurian dengan kekerasan. (agp/pit/avi)

http://www.malang-post.com/tribunngalam/60158-aliansi-jurnalis-tuntut-usut-sampai-tuntas
Organisasi Pers Dan LSM Bentuk Koalisi

Rabu, 16 Januari 2013 21:13
MALANG – Kasus tindak kekerasan, yang dilaporkan oleh jurnalis perempuan Malang Post, Ira Ravika Anggraini, disikapi serius oleh berbagai organisasi pers serta LSM, yang bergiat dalam hal kemanusiaan dan perlawanan terhadap kekerasan.
Mereka sepakat bergabung dalam Koalisi Masyarakat Antikekerasan (KOMA) dan menyusun langkah konkret untuk mengawal pengusutan kasus tersebut, serta mencegah berulangnya hal serupa pada jurnalis lain.

Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor redaksi Malang Post Jalan Sriwijaya 1-9, Rabu (16/1) kemarin, sejumlah organisasi pers dan LSM sepakat, tindak kekerasan yang dialami Ira Ravika, adalah tindak kekerasan yang diakibatkan profesinya sebagai jurnalis. Koalisi Masyarakat Anti Kekerasan tersebut terdiri dari 14 organisasi yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Malang, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Malang, FWKM (Forum Wartawan Kota Malang), JK (Jurnalis Kanjuruhan) Kabupaten Malang, FKWB (Forum Wartawan Kota Batu), Jurma (Jurnalis Malang), LBH Pers Surabaya, LBH Surabaya Pos Malang, KontraS Surabaya (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), SBSI Malang, Walhi (Wahana Lingkungan Hidup), PP Otoda Universitas Brawijaya, MCW (Malang Corruption Watch) dan Komunitas Melek Media Komunikasi UMM.

‘’Kita semua sepakat, tindakan kekerasan yang menimpa Ira, adalah berhubungan dengan profesinya sebagai jurnalis. Maka jangan berfikir ini tentang Malang Post saja. Tapi ini adalah tentang wartawan,’’ kata Sugeng Irawan, Ketua PWI Malang sekaligus moderator pertemuan tersebut.  Usai menyamakan tujuan, koalisi langsung membuat petisi yang ditandatangani oleh 14 anggota Koalisi Masyarakat Anti Kekerasan. Petisi yang berisi dua tuntutan tersebut, akan diserahkan langsung ke Polres Malang Kota, sebagai satu bentuk dukungan kepada pihak kepolisian, untuk menuntaskan pelaporan yang dilakukan Ira Ravika sebelumnya.

‘’Isi petisi ini antara lain mengutuk kekerasan yang dialami jurnalis harian Malang Post Ira Ravika Anggraini, serta menuntut kepada Polres Malang Kota, untuk bersungguh-sungguh mengusut tuntas laporan yang telah dibuatnya,’’ kata Abdi Purmono, jurnalis senior Malang yang juga anggota AJI Malang. Apalagi, kata dia, kekerasan yang dialami Ira, melanggar UU 40 Tahun 1999.  Dalam pasal 8 disebutkan, wartawan saat menjalankan tugasnya, punya hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

Sementara itu, perkembangan kasus itu sendiri, hingga seminggu setelah kejadian, Reskrim Polres Malang Kota, masih belum mendapat petunjuk siapa dua pelaku kekerasan tersebut.  Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP James Hasudungan Hutajulu ketika dikonfirmasi mengatakan, akan segera memanggil Ira Ravika. Paling lambat dalam minggu ini, wartawati yang biasa ngepos di Polres Malang Kota ini, akan dipanggil untuk diperiksa ulang.

Pemeriksaan tambahan tersebut, kata dia, diharapkan bisa dijadikan petunjuk polisi untuk mengungkap pelakunya. Pasalnya, dalam peristiwa kekerasan itu, Ira Ravika ini adalah mahkota yang menjadi saksi kunci utama. ‘’Saya harap Ira bisa mengenal ciri-ciri pelakunya, seperti memiliki ciri khusus sepeti tatto atau lainnya. Sebab hanya dia saksi kunci utama kami. Pemeriksaan Ira sendiri, akan segera kami agendakan. Surat pemanggilannya sudah dibuat oleh penyidik,’’ ungkap James Hasudungan Hutajulu, kepada Malang Post ketika ditemui di ruangannya siang kemarin.

Selain akan memeriksa Ira Ravika, polisi juga akan memanggil beberapa saksi di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) untuk dimintai keterangan.  ‘’Sebetulnya selama ini kami sudah bekerja. Hanya kami kesulitan dari ciri-ciri pelaku. Tidak ada saksi, baik korban atau saksi di sekitar TKP yang mencatat nomor polisi kendaraan pelaku. Kalau mungkin ada yang tahu, secepatnya pelaku pasti bisa ditangkap. Tetapi kami tetap berharap Ira nanti bisa mengenali pelakunya,’’ terang James.

Tidak hanya berpatokan pada saksi, untuk secepat mungkin mengungkap pelakunya, polisi juga akan mencari bukti petunjuk lain. Salah satunya adalah mencari rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Dengan bukti rekaman yang ada itu, setidaknya juga untuk memudahkan kerja polisi. Untuk motif di balik kejadian ini sendiri, perwira dengan pangkat balok tiga di pundaknya ini mengatakan, dari hasil penyelidikan sementara dugaan motif kejadian itu adalah murni kekerasan. Masalahnya, jika mengerucut pada percobaan perampasan, sama sekali tidak ada barang milik korban yang hilang.

Untuk menyelidiki kasus kekerasan yang dialami Ira Ravika Anggraeni ini, Polres Malang Kota juga telah membentuk tim khusus. Tim tersebut diambil dari personil Crime Cruiser (CC) Reskrim Polres Malang Kota. Tim sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tim bagian lapangan dan tim sebagai penyidik. ‘’Semua informasi sekecil apapun yang didapat oleh tim ini, sudah kami minta untuk menyampaikan. Karena hal itu adalah sebuah perkembangan atau petunjuk untuk mengungkap kasus ini,’’ ujarnya. (agp/pit/avi)

http://www.malang-post.com/tribunngalam/60305-organisasi-pers-dan-lsm-bentuk-koalisi-

Jurnalis Desak Polisi Tangkap Pelaku

Selasa, 15/01/2013 08:49 WIB

Memo – Puluhan wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Malang Raya turun jalan menggelar demo simpatik aksi solidaritas untuk kemerdekaan pers, di depan Patung Buto, Stasiun Kota Baru Malang, Senin (14/1) sekitar pukul 10.30. Aliansi ini terdiri dari organisasi wartawan PWI, AJI, FWKM, FKWB, JK dan Jurma.
Koordinator aksi, Hari Istiawan mengatakan di awal tahun 2013, kalangan pers telah menanggung keprihatinan mendalam atas insiden kekerasan yang dialami oleh dua jurnalis dari 2 perusahaan yang berbeda dan tempat kejadian berbeda. “Kekerasan terhadap jurnalis atau wartawan tidak boleh terjadi,” katanya.
Karena itu, diharapkan seluruh jurnalis di Malang Raya bersatu untuk membangun solidaritas dan kerjasama dalam menghadapi segala bentuk kekerasan yang bertentangan dengan kemerdekaan pers karena kekerasan ini juga dapat dialami oleh yang lain.
Selain itu juga, mengingatkan pada seluruh jurnalis di Malang Raya untuk bersikap terbuka menerima kritik dan menjaga kesantunan perilaku dan perkataan saat menjalankan tugas jurnalistiknya serta tetap bekerja sesuai kode etik jurnalistik.
Para jurnalis ini mengutuk kekerasan yang dialami oleh salah satu jurnalis Malang Post, Ira Ravika Anggraini, yang terjadi pada hari Rabu, tanggal 9 Januari 2013. Untuk itu, mengharapkan pada aparat kepolisian dapat melakukan pengusutan terhadap persoalan tersebut.
Terkait kejadian itu, Aliansi Jurnalis Malang Raya mengeluarkan pernyataan sikap yaitu mengutuk kekerasan yang dialami oleh salah satu juranalis Malang Post tersebut karena hal ini telah melanggar kemerdekaan pers sesuai dengan UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.
Dihimbau pada semua pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan pers agar menempuh upaya penyelesaian melalui mekanisme hak jawab seperti yang tertuang dalam UU Pers. Disebutkan dalam pasal 1 ayat 11 bahwa hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan dan sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
Sedangkan hak koreksi disebutkan pada pasal 1 ayat 12, yang menjelaskan bahwa hak koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau memberitahukan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
Dalam persoalan ini, pers memiliki kewajiban memberikan hak jawab dan hak koreksi. Kewajiban ini ditentukan dalam pasal 6 ayat 2 dan 3. Bagi perusahana yang melanggar ketentuan pasal ini akan dipidana penjara dengan pidana denda maksimal Rp 500 juta. (ari)


http://www.memoarema.com/hukum/jurnalis-desak-polisi-tangkap-pelaku.html#axzz2PY18rHOI

Wartawan Malang Raya Kecam Kekerasan Terhadap Jurnalis Malang Post

Muhammad Aminudin - detikSurabaya

wartawan Malang Raya tolak kekerasan/M Aminudin
Malang - Aliansi Wartawan Malang Raya menggelar aksi depan Stasiun Malang, Senin (14/1/2013). Mereka mengecam tindakan kekerasan menimpa Ira Ravika Anggraini jurnalis Malang Post beberapa waktu lalu.

Aksi digelar dengan membawa spanduk besar menolak kekerasan dan menuntut polisi mengusut tuntas kejadian itu. 

"Usut tuntas kasus saudara kami Ira Ravika," teriak pendemo.

Pendemo menyerukan tindak kekerasan terhadap Ira Ravika sebagai bentuk pencederaan kebebasan pers. "Pers sebagai salah satu pilar demokrasi," kata pendemo.

Kasus kekerasan itu dilakukan oleh dua pengendara motor Kawasaki Ninja berboncengan di kawasan Oro-oro Dowo, Kota Malang, Rabu (9/1/2013).

"Ira mengalami patah tulang di lengan kanan dan beberapa luka di bagian kaki akibat kejadian itu," terang koordinator aksi Hari Istiawan disela demo.

Diduga, kekerasan itu berhubungan dengan aksi pejambretan oleh oknum TNI Angkatan Darat dari kesatuan elite di kawasan Singosari pada Kamis (3/1/2013), malam yang diberitakan di harian Malang Post pada edisi Sabtu, 5 Januari 2013.

Aksi penjambretan ini juga diekspos oleh banyak media. Sebelum dicelakai, Ira menerima sejumlah ancaman lewat pesan pendek (SMS).

Ira juga sempat dicaci-maki oleh seorang penguasa militer di Kota Malang. Bahkan, dalam sebuah pertemuan di Perumahan Permata Jingga, Kota Malang, sehari setelah dicelakai, Ira masih diminta oleh orang yang tak jelas kapasitasnya (bukan sebagai narasumber dalam berita) untuk menjelaskan berita penjambretan dan sekaligus diminta membantah keterangannya kepada sejumlah wartawan media online mengenai unsur pemaksaan terkait ajakan makan di Rumah Makan Jogja di kawasan Soekarno-Hatta sebelum kejadian. 

Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi Wartawan Malang Raya mengutuk kekerasan yang dialami jurnalis harian Malang Post Ira Ravika Anggraini melanggar kemerdekaan pers yang dijamin dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. 

"Kekerasan dimaksud adalah kekerasan yang dilakukan oleh dua pria misterius yang membuat Ira luka-luka, juga kekerasan verbal berupa caci-maki dan ancaman, serta paksaan untuk membantah isi berita yang dibuat beberapa jurnalis media online," tegas Hari.

(bdh/bdh) 

http://surabaya.detik.com/read/2013/01/14/143042/2141519/475/wartawan-malang-raya-kecam-kekerasan-terhadap-jurnalis-malang-post