4 Oct 2016

Ketua AJI Malang : Anggota TNI Harus Tahu Cara Kerja Wartawan


Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, Hari Istiawan melihat pentingnya pemahaman tentang kerja-kerja jurnalistik dan wartawan oleh anggota TNI sampai tingkat prajurit paling bawah.




Jika prajurit paling bawah paham tentang kerja jurnalistik, maka tindak kekerasan yang dilakukan prajurit TNI kepada wartawan diharapkan tidak terulang lagi.

Hal ini diungkapkan Hari di sela-sela demonstrasi solidaritas jurnalis yang menjadi korban penganiayaan anggota TNI AD di Madiun.

"Jangan hanya para pimpinan, para jenderal yang tahu. Prajurit yang paling bawah juga harus tahu," tegas Hari.

Beberapa kali terjadi kasus penganiayaan terhadap jurnalis dilakukan oleh anggota TNI. Penganiayaan dilakukan ketika sang jurnalis melakukan kerja jurnalistik. Hanya saja, lanjut Hari, transparansi terhadap penanganan kasus oleh TNI itu masih minim.

"Ini juga penting, transparansi penanganan kasus. Kadang kala penanganan kasus terhadap anggota tidak transparan. Kami mendesak supaya penanganan kasus kekerasan terhadal jurnalis dilakukan secara transparan dan memakai UU Pers, termasuk ketika nanti sampai masuk ke pengadilan," tegasnya.

Senin (3/10/2016) puluhan jurnalis yang tergabung dalam Jurnalis Malang Raya (JMR) menggelar aksi solidaritas di depan Balai Kota Malang. Jurnalis itu ada yang tergabung di organisasi profesi seperti AJI, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang, dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang. JMR mengutuk keras perbuatan beberapa anggota TNI Yonif 501 Rider Madiun yang menganiaya kontributor Net TV, Soni Misdananto, Minggu (2/10/2016).


Dalam aksinya JMR membawa sejumlah poster yang antara lain bertuliskan 'Lindungi Jangan Pukuli' dan 'Pakai Otak Jangan Main Sikat'. Jurnalis juga menyindir kekerasan tersebut, yang digambarkan memakai sepasang sepatu yang menindih peralatan kerja jurnalis seperti video, kamera, dan kartu pers.

sumber: suryamalang.com