12 Apr 2013

JURNALIS PERLU PERDALAM PENGETAHUAN TENTANG HIV DAN AIDS

Foto: Hari Istiawan

MALANG — Sebanyak 20 jurnalis mengikuti pelatihan meliput isu human immunodeficiency virus (HIV) danacquired immune deficiency syndrome (AIDS) di kantor Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Rabu, 10 April 2013.

Pelatihan yang diselenggarakan bersama antara Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang dengan Ikatan Gaya Arema (Igama) itu menghadirkan narasumber dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Malang, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, serta komunitas pendamping Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) seperti Yayasan Paramitra dan Sadar Hati. Kegiatan ini didukung Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAID).

Sekretaris KPA Kabupaten Malang Adi Purwanto mengatakan, para jurnalis perlu meningkatkan pengetahuan tentang HIV dan AIDS agar terhindar dari sensasionalisme, vulgarisme, stigmatisasi, dan diskriminasi sehingga menghasilkan karya jurnalistik yang berempati pada nasib ODHA. “Media juga berperan memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk mengendalikan HIV dan AIDS,” kata Adi.

Nizam dari Yayasan Paramitra sependapat dengan Adi. Menurut Nizam, pemberitaan media massa memiliki dampak luas terhadap pola kehidupan sosial, termasuk aspek kesehatan. Media berperan membentuk persepsi masyarakat tentang penyakit dan mempromosikan pencegahannya. HIV dan AIDS merupakan isu yang sebenarnya sangat menarik perhatian media. “Informasi yang disampaikan media massa bisa menumbuhkan kesadaran sekaligus mempromosikan pencegahan dan pengendalian bahaya HIV dan AIDS,” ujar Nizam.

Namun, ia menukas, media massa justru sering tergelincir memproduksi karya jurnalistik tentang HIV dan AIDS yang sensasional, vulgar, dan mengandung stigmatisasi. Media massa lebih banyak menginformasikan angka statistik penderita HIV dan AIDS ketimbang melakukan reportase agar masyarakat ikut terdidik dan tercerahkan mengenai problematika penanggulangan HIV dan AIDS.

Berita yang dihasilkan juga sering tidak akurat, serta banyak mengandung prasangka dan opini. Akibatnya, masyarakat lengah terhadap bahaya HIV dan AIDS. Kelompok tertentu di masyarakat yang dianggap mempunyai risiko tinggi tertular dan menularkan AIDS mengalami diskriminasi sehingga kehidupan mereka menjadi semakin buruk.

Kritik lain, jurnalis kurang cermat dan kritis dalam memilih dan memilah fakta tentang HIV dan AIDS yang diperoleh dari berbagai sumber atau ahli. Padahal, banyak sumber atau ahli yang belum cukup baik memahami persoalan HIV dan AIDS. Akibatnya timbul mitos, stereotip, atau ketakutan berlebihan. Masih ditemukan pemakaian terminologi yang tidak tepat dalam karya jurnalistik sehingga informasi yang diterima masyarakat juga keliru.

Jurnalis masih tergoda untuk untuk memaparkan jati diri termasuk karakteristik (ras, kebangsaan, orientasi seksual) seseorang yang terinfeksi HIV tanpa mempertimbangkan dan juga tanpa memberitahu konsekuensi (informed consent) penyebaran informasi jati diri maupun karakteristik tersebut.

“Dampaknya, sering terjadi seseorang yang terinfeksi HIV setelah diberitakan lewat media massa malah kehilangan pekerjaan, dikucilkan, termasuk keluarganya, dan sebagainya. Untuk itu, kami sangat berharap para jurnalis mau meningkatkan kapasitas pengetahuannya tentang HIV dan AIDS agar dapat meliput dan menulis berita dengan empati,” kata Nizam.

Usai berdialog, jurnalis peserta pelatihan melakukan kunjungan ke sebuah lokalisasi di Dusun Gondanglegi, Desa Gondanglegi, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di lokalisasi ini ada 22 wisma dengan total 102 wanita pekerja seks. ***