4 Apr 2013



Buntut Penganiayaan Terhadap Ira Rafika Anggraini

Jurnalis di Malang Buat Petisi Kekerasan Terhadap Wartawan

Editor:  | Kamis, 17 Januari 2013 13:51 WIB, 77 hari yang lalu


 0Google +0 0 4

Jurnalis di Malang Buat Petisi Kekerasan Terhadap Wartawan - Buntut Penganiayaan Terhadap Ira Rafika Anggraini - Tolak kekerasan terhadap wartawan
Tolak kekerasan terhadap wartawan(Foto: Ilustrasi)

LENSAINDONESIA.COM: Jurnalis Malang Raya membuat petisi terkait dengan pengungkapan
dan penuntasan kasus kekerasan yang dialami wartawan Malang Post, Ira Rafika Anggraini.
Petisi tersebut merupakan hasil kesepakatan beberapa elemen masyarakat serta wadah jurnalis
PWI, AJI, FWKM, Forum Wartawan Kanjuruan, FKWB, Kontras, LBH dan beberapa
elemen lainnya di Malang, Rabu (16/1/2013) kemarin.
Yang isinya, mengutuk keras tindakan kekerasan terhadap wartawan, menuntut polisi agar
mengungkap dan mengusut tuntas penganiaan yang dialami Ira Rafika Anggraini serta
menuntut agar pelaku ditindak tegas.
“Petisi ini akan kita kirim ke Polresta Malang, Polda, Polri, Dewan Pers dan lembaga lainnya.
Selain membuat petisi, kita juga membentuk tim independen untuk mengawal penuntasan
kasus kekerasan terhadap wartawan ini,” jelas Ketua PWI Malang Raya, Sugeng Irawan
yang diamini Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Malang Raya, Eko Widianto serta
 perwakilan Kontras, Andi dan utusan LHB Surabaya.
Tim independen itu beranggotakan tiga orang. Mereka adalah Abdi Purnomo, Sunavip
Raindrata dan Eko Prasetyo. Tugasnya mencari fakta, mengawal advokasi dan penggalangan
dukungan. Makanya dibentuk tiga divisi khusus untuk tim independen tersebut.
Divisi advokasi dikoordinir Eko Prasetyo, Divisi Tim Pencari Fakta (TPF) dikomando
Sunavip Raindrata. Sedangkan divisi untuk penggalangan dukungan dan jaringan dikomandani
 Abdi Purnomo.
“Dengan adanya Tim Independen yang terdiri dari tiga divisi itu kita harapkan kasus
penganiaan yang menimpa wartawati Ira ini bisa terungkap. Pelakunya juga bisa ditindak
 tegas siapa pun statusnya. Baik itu sipil maupun tentara atau polisi,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Ira saat mengendarai sepeda motor dikejar-kejar dan ditendang
sehingga jatuh. Akibatnya, dia mengalami luka da tangan kanannya patah. Penganiaan itu
 terkait dengan pemberitaan yang ditulis Ira di Malang Post.
Dalam pemberitaan tersebut, Ira menulis soal anggota tentara yang jambret lalu ketangkap dan
dihakimi massa. Pelaku penjambretan yang dihakimi massa itu secara terang-terangan mengaku
 anggota tentara. Bahkan dia sempat menunjukkan kartu tanda anggota (KTA).
Kasus penjambretan itu ditulis oleh Ira dan beberapa wartawan lainnya. Sebelum keluar di media,
 aparat dari TNI sempat mendatangi kantor Malang Post. Dua perwira itu mendatangi Pemimpin
 Redaksi (Pemred) Malang Post, Sunavip Raindrata. Mereka meminta agar berita tersebut
tidak dimuat.
Namun, permintaan tersebut ditolak. Alasan Sunavip Raindrata karena kasus itu merupakan
fakta peristiwa yang terjadi di lapangan. Dia pun meminta agar memberikan hak jawab.
Setelah didatangi perwira tentara itu, Ira diajak makan oleh perwira polisi dari Pollres
Kota Malang.
Usai makan siang, Ira dikejar-kejar dua orang yang berboncengan dan dihajar di atas
sepeda motornya. Ira akhirnya jatuh dan tangan kanannya patah. "Peristiwa ini saya yakin 
ada kaitan dengan pemberitaan yang ditulis Ira,” tegas
 Sunavip Raindarata.@aji dewa roisky