24 Aug 2010

AJI Malang Gelar Doa Bersama untuk Ridwan dan Ardiansyah

Selasa, 24 Agustus 2010 15:19 WIB

TEMPO Interaktif, Malang - Sekitar 30 wartawan di Malang, Jawa Timur menggelar aksi keprihatinan dan doa bersama untuk mensikapi kematian Ridwan Salamun, wartawan SUN TV Ambon dan Ardiansah Matrais, wartawan Merauke TV.

Aksi dilakukan di depan Balai Kota Malang, Selasa (24/8). "Aksi ini sebagai ungkapan duka dan rasa solidaritas kepada Ridwan dan Ardiansyah," kata Ketua AJI Malang Abdi Purmono.

Dalam aksi tersebut, wartawan melakukan tabur bunga di atas kartu pers dan melakukan doa bersama. Aksi juga diwarnai dengan orasi dan pembacaan pernyataan sikap yang isinya kecaman terhadap kekerasan terhadap wartawan.

Dalam aksi tersebut, AJI Malang mengecam aksi-aksi kekerasan oleh massa atau siapa pun yang menyebabkan kematian wartawan. AJI mengingatkan bahwa profesi jurnalistik professional dilindungi Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

AJI juga meminta kepolisian bersungguh-sungguh mengusut tuntas berbagai kasus kekerasan tersebut sampai pelakunya ditangkap dan diadili di pengadilan. Selain itu, AJI mengajak seluruh wartawan untuk selalu bersikap terbuka dalam menerima kritikan dan tetap berpegang teguh pada Kode Etik dan UU Pers No 90 tahun 1999.

AJI Malang mencatat, aksi kekerasan yang cenderung meningkat pada 2010 ini menjadi ancaman terhadap proses demokratisasi di Indonesia, yang salah satunya ditandai dengan adanya kebebasan pers. "Kekerasan dalam bentuk apa pun merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia," ujar Abdi Purmono.

Ridwan Salamun, 35 tahun, kontributor SUN TV di Ambon, Maluku, tewas dikeroyok saat meliput bentrokan warga di Tual, Maluku Tenggara, Sabtu (21/8).

Sebelumnya, pada Kamis (29/7) pagi, wartawan Merauke TV, Ardiansyah Matrais, 25 tahun, ditemukan tewas terapung di Sungai Marau, kawasan Gudang Arang, Merauke, Papua.

Polisi menyatakan tidak menemukan bekas penganiayaan pada tubuh Ardiansyah, sebuah klaim yang sangat patut diragukan, karena belakangan ditemukan bekas-bekas penganiayaan pada diri Ardiansyah.

Sebelum Ardiansyah meninggal, empat wartawan di Merauke, Papua, menerima ancaman kekerasan dan pembunuhan lewat pesan pendek atau SMS.

Keempatnya adalah Lidya Salma Achnazyah (Bintang Papua), Agus Butbual (Suara Perempuan Papua), Idri Qurani Jamillah (Tabloid Jubi), dan Julius Sulo (Cendrawasih Pos).

BIBIN BINTARIADI

http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2010/08/24/brk,20100824-273604,id.html