3 Apr 2016

Catatan ngAJI : Meliput Bencana, Menjaga Etika


Ilustrasi

Para jurnalis sering mengabaikan keselamatan diri saat meliput peristiwa bencana. Alasannya klise, yakni ingin mengabadikan atau mendapatkan momen terbaik untuk dijadikan sebagai produk jurnalistik. Padahal patut diingat bahwa tiada berita senilai nyawa.


“Jangan terlalu memaksakan diri. Lebih baik utamakan keselamatan diri apabila memang situasi dan kondisi tidak memungkinkan dan atau peluang untuk mendapatkan momen terbaik itu sangat kecil dan bahkan mustahil. Jangan sampai niat meliput, tapi malah diri sang jurnalis yang justru jadi obyek berita,” kata jurnalis Tempo, Abdi Purmono, dalam sebuah diskusi rutin di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang.

Diskusi berlabel ngAJI yang digelar rutin setiap Malam Minggu itu memunculkan banyak hal untuk didiskusikan; mulai dari apa saja yang harus disiapkan,hal-hal yang harus dihindari, sampai isu menarik untuk dijadikan berita. Pada prinsipnya, peliputan peristiwa kebencanaan tetap harus memperhatikan dan mematuhi Kode Etik Jurnalistik.

Media massa memiliki peran penting dalam rantai penyebaran informasi kebencanaan. Percepatan informasi kebencanaan yang lebih dini ke masyarakat bisa meminimalisir korban jiwa maupun dampak kerusakan yang ditimbulkan. Namun, jurnalis perlu pula memperhatikan peliputan mengenai peringatan diri kebencanaan.

Semisal di musim hujan, jurnalis tak usah menanti terjadinya bencana, tapi ia bisa menggarap bahan-bahan yang bisa dipakai untuk memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai terjadinya bencana. Berbeda dengan bencana gempa bumi yang sangat susah diprediksi, bencana banjir dan longsor, misalnya, lebih gampang diprediksi dengan menggunakan pendekatan sains. Bencana dan longsor sering terjadi akibat ulah manusia juga. Begitu pula dengan bencana kebakaran hutan di musim kemarau, misalnya,

MANAJEMEN KEBENCANAAN
“Isu apa saja yang menarik untuk diangkat menjadi berita saat terjadi peristiwa bencana alam,” tanya Ditta jurnalis radio Andalus dalam ngAJI malming.

Indonesia merupakan negeri yang rentan mengalami bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, tanah bergerak, dan kebakaran hutan. Peristiwa tsunami Aceh 2004 memberikan kita banyak pelajaran penting.

Dalam skala yang lebih kecil, peristiwa erupsi Gunung Kelud pada pertengahan 14 Februari 2014 pun memberikan pelajaran dan pengalaman sangat berharga bagi para jurnalis di wilayah Malang Raya, bahwa peliputan bencana bukan saat peristiwa itu terjadi. Isu manajemen kebencanaan yang mencakup penanganan prabencana, kedaruratan, dan pasca-bencana merupakan hal penting yang patut disajikan secara komprehensif.

Prabencana menempatkan media sebagai mata rantai peringatan dini yang meliputi aspek pencegahan, mitigasi, rencana kontinjensi atau prosedur penanganan/kesiapsiagaan bencana. Rencana kontijensi adalah suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan segera terjadi, tapi mungkin juga takkan terjadi. Ini prosedur yang dibuat instansi berwenang, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Penyebarluasan informasi kebencanaan secara lebih dini bisa menekan korban dan kerusakan dalam skala besar. Sebagai contoh, saat terjadi gempa berkekuatan di atas 7 skala Richter yang berpotensi tsunami, masyarakat harus segera dievakuasi. Upaya ini pun sebisa mungkin disertai dengan pemberitaan mengenai pemetaan daerah-daerah rawan bencana, jalur evakuasi, kekuatan logistik, hingga personel yang terlibat.

Darurat kebencanaan lebih fokus pada saat terjadi bencana yang mencakup upaya penyelamatan dan penanganan di lokasi bencana. Pada tahap ini jurnalis bisa berkonsentrasi pada upaya search and rescue (SAR), bantuan logistik bagi pengungsi, penanganan korban manusia dan hewan, kerusakan bangunan dan kendaraan, penentuan zona aman bencana, dan tentu saja penyajian informasi akurat mengenai skala bencana. Mengetahui siapa pemegang komando dari instansi terkait penanganan bencana di lapangan sangat penting. Sang pemegang komando menjadi sumber penting bagi jurnalis saat hendak melakukan verifikasi informasi di lapangan yang simpang siur.

Fase pasca-bencana lebih pada kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi setelah bencana terjadi, baik pemulihan korban dari trauma bencana hingga rehabilitasi sarana infrastruktur yang rusak akibat bencana. Informasi zona paling parah kerusakannya harus akurat agar penyaluran bantuan tepat sasaran.

TIPS MELIPUT BENCANA
Meliput peristiwa bencana alam adalah salah satu peliputan yang menantang dan penuh risiko bahaya. Banyak jurnalis atau tim peliput dari perusahaan pers turun langsung ke lokasi bencana. Ironisnya, banyak jurnalis yang turun ke daerah bencana tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang bagaimana teknik meliput dan melindungi diri di daerah bencana.
 “Persiapkan banyak hal. Jangan sampai niat wawancara korban bencana, malah sebaliknya kita merepotkan mereka karena minim persiapan,” ucap Abdi Purmono.

Seorang jurnalis sejatinya wajib mengenali lokasi bencana yang hendak diliput. Mengetahui akses atau jalur masuk ke dan keluar dari lokasi bencana yang aman bisa menghindarkan jurnalis dari bahaya di lapangan. Memahami karakter bencana, seperti longsor, banjir, erupsi erupsi gunung berapi, memiliki skala risiko yang berbeda. Peristiwa erupsi gunung api di musim hujan memungkinkan terjadinya bencana susulan seperti banjir lahar hujan.

Mematuhi aturan yang ditetapkan pihak berwenang. Hal ini berkaitan dengan zona aman bencana yang ditetapkan pemerintah. Ada beberapa peristiwa kematian yang dialami beberapa jurnalis peliput bencana, terutama saat terjadi erupsi gunung berapi. Sikap sok jagoan dan semangat tinggi tanpa disadari pengetahuan dan kepatuhan terhadap peraturan zona aman, misalnya, justru bisa menjadi bumerang bagi jurnalis peliput bencana.

Sikap dan tindakan tersebut bisa menjadi sebuah kenekatan, kecerobohan, dan sekaligus kekonyolan yang berbuah bencana bagi jurnalis, entah itu  sekaligus kecerobohan yang berbuah kecelakaan dan kematian bagi pribadi jurnalis.

Logistik yang cukup, seperti ketersediaan air mineral dan kudapan kaya nutrisi penting dibawa untuk menjaga tubuh jurnalis agar tidak mengalami dehidrasi dan kehabisan energi selama bekerja meliput peristiwa bencana. Obat-obatan, minimal obat-obatan P3K, bisa menyelamatkan diri jurnalis dari serangan penyakit dan bisa juga menolong warga yang jadi korban.

HINDARI BENCANA JURNALISME
Jurnalis sangat patut memperhatikan secara saksama informasi kebencanaan resmi yang dirilis pemerintah. Disiplin konfirmasi dan verifikasi wajib dilakukan supaya jurnalis terhindar melakukan kekonyolan “bencana jurnalisme” karena sembarangan mempublikasikan informasi yang simpang siur menjadi berita. Berita yang tidak akurat bisa memperbesar kepanikan masyarakat.

Meliput korban bencana dengan berempati, bukan mengeksploitasi. Seringkali jurnalis mengawali pertanyaan kepada korban dengan kalimat bagaimana perasaan yang dirasakan korban. Ada lagi kebiasaan menanyakan firasat pada korban. Ini jenis pertanyaan klise yang naif dan mengandung kebodohan nalar. Tentu saja jurnalis bisa memprediksi jawaban korban tentang perasaannya. Sedangkan firasat tidak relevan dengan peristiwa kecuali sang jurnalis memang penyuka dunia klenik.

Selain itu, dalam perpekstif  korban, pertanyaan semacam itu menunjukkan sikap tak berempati. Bentuk simpati dan empati lain yang bisa dilakukan jurnalis adalah tidak mengeksploitasi korban dengan gambar sarat kepiluan.

Jurnalis di Malang Raya bisa belajar bagaimana televisi nasional Jepang, NHK, menyajikan berita-berita gempa bumi dan tsunami Maret 2011. NHK tidak menayangkan gambar mayat bergelimpangan, tayangan gambar pun minim orang-orang yang menangis meraung-raung.

Pemberitaan bencana justru menggambarkan keteguhan dan keinginan kuat pemerintah dan rakyat Jepang untuk cepat bangkit dari kepedihan dengan bekerja cepat dan tepat. Bayangkan rakyat Jepang yang terkena bencana masih bisa berbaris rapi dalam antrean hanya untuk mendapatkan satu jiriken air bersih dan sepotong roti. Pemulihan mental dan penanganan pasca-bencana menjadi berita yang lebih diutamakan dalam masa “tanggap darurat” tersebut.

Hal serupa dilakukan hampir semua media di Jepang. Mereka seakan memberi pesan kepada bangsa-bangsa lain bahwa mereka bangsa yang kuat dan sanggup bangkit dengan cepat untuk memulihkan diri dan membangun kembali.

Hal tersebut juga bermakna ganda media bahwa media dalam memberitakan juga tetap menjaga etika pemberitaan.