6 Aug 2010

Paparazzi ala Jurnalis Infotainmen

KORAN TEMPO, Kamis, 5 Agustus 2010

Surokim, Dosen Departemen Komunikasi Fisib Unijoyo, Madura

Sepak terjang jurnalis infotainmen televisi di Tanah Air telah menjelma layaknya paparazzi (jurnalis foto candid independen, pen) yang tiada lelah memburu para selebritas untuk dijadikan berita dan mengejar siaran up to date. Cara yang digunakan untuk memperoleh bahan pemberitaan juga semakin mirip, berani, nekat, dan penuh kontroversi. Tidak jarang, dalam beberapa kejadian liputan, cara jurnalis infotainmen yang kejar-hadang tersebut menuai keberatan dan protes.

Setelah ditelisik lebih dalam, ternyata model kerja jurnalisme itu lebih banyak didorong oleh tuntutan kejar-tayang siaran mengingat infotainmen kini menjadi salah satu program andalan bagi industri TV. Berjejalnya jam tayang infotainmen di TV, mulai pagi hingga sore, membuat stok dan suplai siaran menjadi minim. Jalan satu-satunya adalah terus memaksa jurnalis di lapangan mengejar sumber berita kapan saja, di mana saja, apa saja, guna mendapatkan bahan pemberitaan agar mampu memenuhi jadwal tayang siaran.

Dalam tayangan infotainmen, kita sering kali menyaksikan cara mereka membuntuti, mengejar, menghadang, mengerubungi, serta memaksa selebritas untuk berbicara dengan cara yang tidak lazim dan tidak etis. Tidak hanya berhenti di ranah publik, mereka juga tidak segan mengejar dan mengambil gambar hingga di wilayah privat. Cara memburu dan mengambil gambar tanpa izin di wilayah privat yang dilakukan para jurnalis infotainmen kerap menjadi polemik dalam studi jurnalisme saat ini, khususnya berkaitan dengan penghormatan terhadap hak privasi narasumber. Beberapa waktu lalu, kita sempat menyaksikan tayangan infotainmen yang diberi label eksklusif merekam dengan jelas Aurel, anak Anang-Krisdayanti, sedang memarahi mereka agar tidak mengambil gambar di rumahnya.

Para jurnalis infotainmen memang tahan banting, tidak mengenal waktu, dan bisa memaksa para selebritas untuk "buka mulut", kendati mereka sering menolak dan keberatan. Amatilah, dalam beberapa kali liputan kasus di kepolisian, para selebritas berkali-kali memohon untuk tidak diwawancarai dan disorot kamera terus-menerus karena mereka tengah mengalami kelelahan setelah menjalani proses penyidikan yang panjang oleh pihak berwajib.

Alasan kelelahan ini seharusnya diterima dan dihormati. Bagi mereka yang tidak pernah terlibat dalam kasus hukum dan harus menghadapi proses penyidikan, tentu akan mengalami tekanan yang berat. Proses penyidikan tersebut tentu menguras energi yang bisa membawa dampak kelelahan, baik fisik maupun psikis. Akibatnya, mereka kerap panik dan bingung ketika harus melayani hadangan para jurnalis infotainmen. Tidak sedikit di antara mereka mengalami stres dan tidak mampu mengontrol diri. Berkali-kali kita menyaksikan para selebritas memohon untuk tidak terus disorot, dipaksa bicara, dan dibuntuti terus-menerus. Namun para pekerja infotainmen bergeming dan tetap memburu para selebritas itu ke mana pun.

Bagi para selebritas yang mudah tersulut emosi, potensi terjadinya benturan fisik dan psikis tidak terelakkan. Beberapa kejadian kekerasan, seperti memaki-maki, melempar benda, merusak kamera, dan benturan fisik, sangat mungkin terjadi. Apalagi jika menyangkut hal yang prinsip dan sensitif, seperti nasib karier dan masa depan selebritas. Di saat berada dalam tekanan seperti ini, mereka mudah tersulut emosi. Hal ini bisa jadi sempat menimpa Ariel "Peterpan" ketika merusak kamera yang terus-menerus berada di wajahnya.

Publik bahkan bisa menyaksikan bagaimana ulah para jurnalis infotainmen yang kerap menonjolkan aksi kekerasan ketika meliput, misalnya menghalangi dan menggebrak mobil para selebritas dengan dalih menjalankan kerja jurnalistik. Saatnya jurnalis infotainmen menempuh cara-cara yang etis sebagaimana disarankan Merrill dan Lowenstein, sehingga bisa mencegah benturan dan konflik.

Humanis

Sebagai salah satu karya jurnalistik, infotainmen memang tengah mencari bentuk yang ideal. Kendati hal ini masih menjadi polemik, tidak ada salahnya jika infotainmen juga mengevaluasi diri jika ingin tetap dianggap sebagai karya jurnalistik yang patuh kepada kaidah dan prinsip jurnalistik. Jangan berdalih, sekadar ingin diakui sebagai karya jurnalistik, tetapi cara dan nalarnya jauh dari mandat jurnalisme.

Peluang untuk menjadi karya jurnalistik tetap terbuka lebar jika pekerja infotainmen mampu menakar karya mereka sesuai dengan kepentingan publik. Pada intinya, program infotainmen di tengah tuntutan rating, share, dan industri TV tetap dituntut untuk memenuhi prinsip public's need, public's necessity, public's convenience, dan public's importance.

Takaran terhadap muatan tayangan juga harus senantiasa merujuk pada prinsip dasar tersebut, agar tayangan infotainmen tidak terjebak pada gosip murahan. Jurnalis infotainmen patut diingatkan agar tidak latah mengkonstruksi pola pikir yang aneh di masyarakat serta menerjang kepatutan dan kepantasan dalam batas norma agama dan norma kemasyarakatan. Ada banyak hal yang mestinya tabu, akibat gosip infotainmen kini telah berubah menjadi lumrah di masyarakat. Tren budaya ngegosip dan mengintip juga semakin heboh di masyarakat seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi.

Agar tidak dicap layaknya paparazzi, jurnalis TV harus mampu mengembangkan cara kerja sesuai dengan mandat jurnalisme secara elegan. Melalui cara-cara yang humanis, elegan, etis, beradab, serta dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan sosial. Janganlah berlebihan mengembangkan model paparazzi yang memperlakukan narasumber sebagai obyek eksploitasi semata, tetapi perlakukan sebagai mitra yang saling asih, asah, dan asuh. Harapannya agar infotainmen dapat menjadi program yang menghibur sekaligus mencerdaskan dan menginspirasi publik.

Mencermati gaya, cara liputan, dan tayangan infotainmen dalam beberapa bulan terakhir, khususnya sejak heboh kasus video porno artis, jurnalis infotainmen layak dievaluasi secara menyeluruh, khususnya berkaitan dengan cara memperoleh berita serta memperlakukan narasumber agar sesuai dengan kaidah prinsip jurnalistik dan mandat jurnalisme yang hakiki.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/08/05/Opini/krn.20100805.208190.id.html