22 Aug 2010

Kontributor SUN TV Tewas Dikeroyok

KOMPAS, Minggu, 22 Agustus 2010 03:18 WIB

AMBON, KOMPAS - Ridwan Salamun (35), kontributor SUN TV di Ambon, Maluku, tewas dikeroyok saat meliput bentrokan warga di Tual, Maluku Tenggara, Sabtu (21/8) pukul 07.30 WIT. Ridwan meninggal dengan wajah memar terhantam benda tumpul dan kepala bagian belakang sobek tersabet parang.

Kepala Kepolisian Resor Maluku Tenggara Ajun Komisaris Besar Syaiful Rahman mengatakan, kejadian bermula ketika warga Kompleks Banda Eli dengan Kompleks Fiditan Baru bertikai di perbatasan kedua desa di Kecamatan Dullah Utara.

Pertikaian dipicu amarah Fandi Borut (40), warga kompleks Banda Eli, karena perahu motornya dibakar warga kompleks Fiditan Baru, Jumat (20/8). Ia tidak tahu jika masalah itu telah diselesaikan lewat kesepakatan bersama karena sedang melaut. Fandi yang baru pulang melaut pada Sabtu subuh mengajak sejumlah warga Banda Eli untuk menyerang warga Fiditan Baru.

Warga bertikai menggunakan parang, tombak, batu, panah, dan kayu. ”Ridwan terjebak di tengah massa. Salah satu kelompok menyerang dia. Korban meninggal saat dirawat di Rumah Sakit Umum Tual,” kata Syaiful.

Bentrokan juga menyebabkan Hasan Tamnge (25), tukang ojek, terluka di telinga kiri akibat sabetan parang. Pertikaian dapat dilerai sekitar pukul 08.30 WIT setelah petugas dari Polres Maluku Tenggara dan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Maluku tiba di tempat kejadian.

Kepala Biro SUN TV Makassar Sultan Makkawaru mengatakan, pengelola SUN TV dan pihak keluarga berharap polisi mengusut tuntas kasus ini serta mengadili pelaku sesuai hukum yang berlaku. ”Polisi harus lebih serius menangani kasus ini, mengingat proses hukum pemukulan Ridwan oleh anggota Brimob dua minggu lalu hingga kini belum jelas,” kata Sultan seusai melayat di rumah duka di daerah Batu Merah, Ambon, Maluku.

Ridwan meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki berusia dua tahun.

Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Sulawesi Selatan Husain Abdullah mengimbau pengelola stasiun televisi agar kejadian itu menjadi pelajaran berharga, terutama menyangkut perlindungan kerja wartawan.

”Berdasarkan pengalaman saya bekerja 20 tahun lebih di televisi swasta, umumnya pengelola televisi menuntut pengiriman berita secepat mungkin dan tak kehilangan momen. Namun, mereka tidak melengkapi wartawan dengan sarana memadai, seperti rompi dan helm. Asuransi pun terabaikan,” ujarnya.

Pernyataan bersama Aliansi Jurnalis Independen dan Imparsial, Sabtu di Jakarta, mengemukakan, negara dianggap gagal melindungi pembela hak asasi manusia, seperti wartawan dan pekerja LSM. Kegagalan hadir dalam bentuk negara sebagai pelaku kekerasan dan pembiaran berlangsungnya kekerasan.

Sebelumnya, Wakil Kepala Divisi Humas Polri Komisaris Besar Untung Yoga Ana mengumumkan hasil otopsi terhadap Ardiansyah Matrais (Ardi), jurnalis Merauke TV dan mantan jurnalis tabloid JUBI yang ditemukan meninggal di Sungai Maro Gudang Arang, Merauke, tiga pekan silam. Hasil otopsi menyimpulkan, Ardi masih hidup saat dibenamkan ke sungai. Gigi depan korban tanggal dan beberapa bagian tubuh bengkak akibat pukulan benda tumpul.

Namun, Polda Papua hingga Sabtu sore belum mengetahui hasil otopsi itu. ”Saya belum tahu, tetapi yang jelas menurut hasil penyidikan, bukan ditenggelamkan, tetapi tenggelam dan hasil otopsi menunjukkan tidak ada tanda penganiayaan,” kata Komisaris Besar Wachyono, Kepala Bidang Humas Polda Papua.(APA/RIZ/NAR/EDN/ICH)

http://cetak.kompas.com/read/2010/08/22/03180159/kontributor.sun.tv.tewas.dikeroyok


LINK BERITA TERKAIT

Bentrok Tual Tewaskan Wartawan Televisi
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/08/22/headline/krn.20100822.209792.id.html

Meliput Bentrok, Wartawan TV Tewas
http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=151755

Rekam Tawuran, Wartawan Dibantai
http://www.surya.co.id/2010/08/22/rekam-tawuran-wartawan-dibantai.html