25 Aug 2010

18 Wartawan Dalami Independensi Media di Belanda


Kamis, 22 April 2010 02:38 WIB

London (ANTARA News) - Sebanyak 18 wartawan Indonesia yang juga anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memperoleh beasiswa StuNed untuk mendalami kontribusi jurnalisme multimedia terhadap independensi media di Radio Netherland Training Centre (RNTC) Hilversum, Belanda.

"Para peserta dilepas secara resmi oleh Direktur Nuffic - Neso Indonesia, Marrik Bellen, dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Wahyu Dhyatmika," kata juru bicara Nuffic Neso Indonesia, Ariono Hadipuro kepada koresponden ANTARA London, Rabu.

Menurut dia, independensi media masih menjadi masalah di Indonesia, meski wartawan Indonesia sudah 12 tahun menikmati era kebebasan pers.

"Kami berharap pelatihan itu akan memberi jalan untuk memahami jurnalisme multimedia dapat menjadi solusi untuk memperkuat independensi media," ujarnya.

Pelatihan itu bertujuan untuk mempertajam kapasitas para anggota AJI di bidang multimedia, khususnya terkait dengan independensi media.

Para peserta berasal dari berbagai media cetak dan elektronik dari cabang AJI di enam kota, yaitu Jakarta, Pekanbaru, Bali, Semarang, Malang, dan Surabaya.

Selama tiga minggu dari 24 April hingga 16 Mei, peserta mendalami perkembangan terkini multimedia (new media) dan memperoleh kesempatan melakukan kunjungan ke beberapa organisasi terkait di Belanda.

Sebelumnya, beasiswa StuNed diberikan kepada wartawan, sementara AJI adalah kelompok wartawan ketiga yang memperoleh beasiswa untuk meningkatkan kapasitas organisasinya.

"Peran wartawan sangat strategis untuk mendukung tercapainya tata pemerintahan yang baik yang merupakan salah satu pilar utama kerja sama bilateral pemerintah Belanda dan Indonesia," ungkap Marrik Bellen.

RNTC adalah institusi yang bergerak di sektor media, pembangunan, serta pendidikan. Lembaga itu secara reguler menyelenggarakan pelatihan di bidang media yang diikuti peserta dari berbagai negara berkembang.

Paska pelatihan peserta diwajibkan untuk menyebarluaskan pengetahuan yang diperolehnya melalui blog dan website interaktif untuk mempromosikan media independen.

Pelatihan dan workshop juga akan dilaksanakan sekembalinya mereka dari Belanda, sehingga anggota AJI di berbagai daerah juga dapat merasakan manfaat pelatihan ini.

StuNed merupakan singkatan dari Studeren in Nederland atau studi di Belanda. StuNed merupakan program beasiswa yang merupakan bagian dari kebijakan kerja sama pembangunan pemerintah Belanda yang bertujuan mendukung pencapaian "UN Millenium Development Goals" pada tahun 2015.

Kerangka kerja sama bilateral dengan Indonesia tercantum dalam Multi-Annual Strategic Plan 2008-2011 (MASP) yang bertujuan meningkatkan kerja sama bilateral dan memberikan dukungan kepada Indonesia dalam rangka mewujudkan target pembangunan jangka menengah.

Sementara Nuffic Neso Indonesia adalah organisasi non-profit yang ditunjuk resmi dan didanai pemerintah Belanda untuk menangani berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan tinggi Belanda.

Neso Indonesia adalah perwakilan Nuffic, organisasi Belanda yang menangani kerja sama internasional di bidang pendidikan tinggi.

Neso Indonesia menyediakan informasi serta memberikan konsultasi secara cuma-cuma mengenai lebih dari 1.450 program studi yang diberikan dalam bahasa Inggris.

Bersama dengan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Indonesia, setiap tahun Neso Indonesia menawarkan program beasiswa bagi sekitar 300 warga negara Indonesia dalam bentuk program master dan pelatihan, demikian Ariono Hadipuro.(ZG/K004)

http://www.antaranews.com/berita/1271878729/18-wartawan-dalami-independensi-media-di-belanda